Jenang di kalangan masyarakat Jawa khususnya di wilayah Surakarta sudah melekat dari zaman kerajaan hindu-budha dan era walisongo hingga sekarang. Makanan tradisional khas penduduk Jawa yang terbuat dari beras putih dan beras ketan. Makanan ini kerap hadir sebagai pelengkap di berbagai acara penting seperti hajatan pernikahan, selamatan ibu hamil, selamatan bayi yang baru lahir dan masih banyak lagi berbagai acara adat maupun keagamaan. Segala macam acara adat maupun keagamaan tersebut tidak pernah lepas dari kehadiran makanan ini, makanan ini diyakini muncul dari kreativitas masyarakat setempat.

Jenang bukanlah sekedar makanan tradisional yang khas digemari oleh penduduk Jawa. Lebih dari itu, ternyata makanan ini memiliki filosofis dan simbol-simbol yang diyakini oleh masyarakat di daerah Jawa. Selain sebagai rasa syukur dan terimakasih kepada-Nya, makanan ini juga dijadikan sebagai simbol doa, persatuan, harapan, dan semangat masyarakat Jawa. Jenis-jenis simbol antar jenang satu dengan lainnya berbeda-beda mengingat ada banyak jenisnya yang terkenal di Pulau Jawa.

Sejarah Jenang

jenang-kue-cake-traditional

Eksistensi makanan manis ini di kalangan masyarakat Jawa memang sudah mulai luntur khususnya di kota-kota besar. Namun, di wilayah Surakarta yang masih terdapat kerajaan yang sudah ada dari zaman Hindu-Budha, makanan ini sangat melekat pada setiap acara yang diadakan oleh masyarakat. Makanan yang berbahan dasar tepung beras dan tepung ketan ini sering hadir dalam acara hajatan dan selamatan seperti, pernikahan, selamatan ibu hamil, selamatan bayi baru lahir, dan masih banyak lagi.

Berbagai jenis jenang yang cukup terkenal memiliki makna yang berbeda-beda. Contoh seperti Sum-sum, Ketan Hitam, Procot, masih banyak lagi yang lainya dan memiliki filosofi yang khusus. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya, makanan ini menjadi sebuah simbol doa, harapan, persatuan, dan semangat masyarakat. Masing-masing dari setiap jenisnya juga menjadi simbol yang berbeda pada setiap acara.

Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Bapak Heri Priyatmoko menemukan dalam Serat Lubdaka karya dari Empu Tanakung. “Penulis dari kitab Serat Lubdaka ini hidup di Zaman Kerajaan Kediri atau di sekitar abad XII,” kata Bapak Heri Priyatmoko. Masakan yang berupa jenang atau bubur telah tercatat didalam kitab itu.

Kitab kuno yang lebih lengkap dalam menulis tentang makanan adalah Kitab Serat Tatacara yang ditulis Ki Padmasusastra pada sekitar tahun 1893. Menurut Bapak Heri, kitab itu mendokumentasikan tentang jenis jenang, bahan hingga penggunaannya di dalam tradisi masyarakat.

Sedangkan sejarawan dari Universitas Sebelas Maret, Tundjung Sutirto mengatakan ada hal yang menarik pada penyajian makanan manis berbentuk bubur dalam budaya Jawa. “Jenang selalu disajikan dalam acara upacara maupun selamatan,” kata dia. Sangat jarang makanan di sajikan dalam upacara kematian maupun peringatan kematian di Jawa. Oleh karena itu, Tundjung menyimpulkan makanan ini sebagai simbol sebuah kehidupan.

Apa sih, Jenang itu ?

jenang merah putih

Dalam KBBI jenang adalah bubur ketan atau bisa juga disebut dodol. Di beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Solo dan Yogyakarta jenang adalah penyebutan untuk bubur dan sejenisnya.

Menurut pakar kuliner, yaitu Bondan Winarno menyatakan bahwa penyebutan jenang maupun dodol sama saja. Tapi dia lebih cenderung menyebut jenang yang bubur dengan sebutan bubur saja. Menurut Heri Priyatmoko, seorang sejarawan, mengatakan bahwa bubur yang di keraskan adalah dodol.

Jenang Dalam Tradisi Jawa

Jenang bukan lah makanan sembarangan bagi masyarakat Jawa. Makanan yang satu ini memiliki arti penting yang seringkali hadir dalam tradisi-tradisi yang berkaitan dengan siklus kehidupan orang Jawa. Masyarakat Jawa memaknainya sebagai simbol tolak balak, sehingga hidangan ini sakral dalam artian wajib disajikan, tidak sekedar hidangan pelengkap dalam acara slametan.

Berbagai jenis jajanan yang kita ketahui memiliki makna yang berbeda-beda. Sum-sum, Ketan, Procot, dan masih banyak lagi memiliki filosofi yang khusus. Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya, makanan ini menjadi sebuah simbol doa, harapan, persatuan, dan semangat masyarakat. Masing-masing dari setiap jenisnya juga menjadi simbol yang berbeda pada setiap acara.

Makanan ini ada dalam banyak acara, misalnya pada acara selamatan untuk ibu hamil akan dilengkapi jenang procotan. Begitu juga pada saat memberi nama kepada bayi yang baru lahir maka dibuat jenang sepasaran. Pada acara selametan / syukuran saat setelah melakukan hajat pernikahan makanan ini ada dengan harapan agar pengantin dan seluruh panitia selalu diberikan kesehatan, mendapat berkah dan kekuatan, akan dilengkapi jenang sungsum.

Eksistensi makanan tradisional ini di kalangan masyarakat memang sudah mulai luntur khususnya di kota-kota besar. Tetapi, pada masyarakat di daerah Jawa khusunya Kabupaten Malang memiliki adat pembuatan Jenang Ketan ketika hajatan seperti Nikahan maupun Khitan.

Jenang Ketan adalah salah satu makanan khas yang unik dan tidak akan hilang tempat di masyarakat,  dalam artian makanan ini pasti dibuat ketika musim hajatan. Kabupaten Malang merupakan pelopor dan salah satu daerah yang mempertahankan adat pembuatan makanan ini.

Makanan yang satu ini tergolong sebagai jajanan mewah karena termasuk jajanan yang mahal. Dari bahan makanan sudah bisa dilihat kalau jajanan ini istimewa, adapun bahan-bahannya yakni beras ketan, gula merah dan santan.

Jenang dan Dodol

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, jenang sering disebut juga dodol. Namun sebenarnya tekstur Jenang lebih lembek dari pada Dodol, lebih basah berminyak, dan umumnya dijual dalam bentuk lempengan atau plastikan. Jenang diiris sesuai permintaan pembeli. Sedangkan  Dodol lebih kering (kesat), dipotong dengan ukuran 2 cm×1 cm×3 cm. Pembungkus dodol bisanya berupa plastik atau kertas roti, dan dijual dalam jumlah banyak atau besar di dalam kardus.

Beberapa Macam Jenang Yang Memiliki Makna

Jenang makanan tradisional ini memiliki banyak sekali macamnya, makanan tradisional ini banyak di gemari dan banyak di buat saat acara – acara pada budaya jawa. Solo menjadi kota yang banyak memiliki aneka ragam jenang, di sana jajanan ini sangat terkenal dan banyak yang menyukainya. Di kota Solo bahkan mengadakan festival jenang untuk memeriahkan hari jadi kota Solo yang ke-269 , dalam festival tersebut terdapat banyak jenis makan ini. Di bawah ini beberapa macam yang terkenal dan memiliki makna filosofis.

Jenang Abrit Petak

Dengan warna merah dan putih merepresentasikan penciptaan/asal-usul manusia laki-laki dan perempuan.

Jenang Lang

Maknanya yaitu selalu melihat sesuatu dengan sudut pandang yang luas, namun tetap fokus dengan apa yang menjadi tujuan.

Jenang Saloko

Maknanya kesucian itu milik Allah. Manusia harus selalu mewaspadai nafsu dalam dirinya, berani mengoreksin dan memperbaiki diri sebagai jalan untuk bisa mengenal Allah.

Jenang Manggul

Maknanya adalah manusia harus menjunjung tinggi kebaikan leluhur yang telah mewariskan segala pengetahuan.

Jenang Suran

Maknanya waktu itu terbatas, manusia seharusnya ingat masa lalu dan memperbaiki masa depan.

Jenang Timbul

Mempunyai makna harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Manusia harus ingat Allah dan selalu berdoa untuk mewujudkan harapannya menjadi kenyataan.

Jenang Grendul

Memiliki makna tentang kehidupan yang seperti roda berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Jenang Sumsum

Memiliki makna dalam diri manusia melekat sifat kelemahan dan kekuatan.

Jenang Lahan

Memiliki makna agar manusia melepaskan semua nafsu negatif, iri, dengki, sombong dan sebagainya di hadapan Allah.

Jenang Pati

maknanya melebur nafsu dan pasrah kepada Allah.

Jenang Kolep

Maknanya manusia sebagai mahkluk sosial selalu dihadapkan pada perbedaan. Menghormati dan menghargai perbedaan menjadi nilai yang penting dalam kehidupan sehari-hari.

Jenang Ngangrang

Maknanya bahwa manusia seharusnya belajar mengontrol emosi kemarahannya agar kekuatan yang ada pada dirinya bisa bermanfaat untuk sesama.

Jenang Taming

Maknanya belajar menjaga kekuatan dengan berdoa kepada Allah dan mengenali serta memahami kelemahan diri sendiri.

Jenang Lemu Mawi Sambel Goreng

Maknanya manusia agar tak lemah membangun semangat baru dalam kehidupan.

Jenang Koloh

Memiliki makna bahwa kesempurnaan adalah tujuan hakiki kehidupan manusia, yang sering dilalaikan dalam kesibukan kehidupan sehari-hari.

Jenang Katul

Maknanya kita hidup tak bisa berdiri sendiri karena selalu membutuhkan orang lain.

Jenang Warni Empat

Maknanya simbul nafsu yang melekat pada diri manusia. Warna merah simbol amarah. Putih diartikan Muthamainah, kuning artinya aluamah dan hijau maknanya sufiyah (nafsu yang selalu ingin memiliki duniawi.

Resep Dan Cara Membuat Jenang

macam macam jenang

Membuat jenang dikenal cukup rumit dan panjang dalam proses pengolahannya. Sama seperti dengan membuat dodol, resep dan pembuatan jenang pun hapir-hampir mirip dengan resep dan cara membuat dodol. Meskipun demikian, bukan tidak mungkin untuk anda coba buat di rumah.

Jika anda berniat membuat jenang di rumah dengan jumlah produksi yang banyak, menggunakan mesin pengaduk dodol ini sangat di rekomendasikan. Pada umumnya alat pengaduk dodol itu juga dapat digunakan untuk memasak atau mengaduk jenang, selai, wajik, dan masakan lainnya. Dengan menggunakan mesin ini dapat membantu mempermudah dan menghemat tenaga untuk membuat jajanan ini dengan jumlah produksi yang banyak.

Jika kalian berminat membuat Jenang, berikut ini saya paparkan beberapa Resep dan Cara Membuat Jenang yang bisa langsung kalian coba di rumah.

Jenang Rangrang

Bahan-Bahan :

  • 100 gram beras ketan putih, cuci bersih dan tiriskan
  • 1250 ml air santan kelapa
  • 1 sdt garam
  • 2 lembar daun pandan, potong-potong
  • 120 gram gula aren, disisir halus

Bahan Kuah Santan : 

  • 300 ml santan kental
  • 1 lembar daun pandang, simpulkan
  • sejumput garam

Cara Membuat Jenang Rangrang :

  1. Tuang beras ketan dalam panci, masukkan setengah bagian air santan, tambahkan garam, dan daun pandan. Gunakan api sedang, masak sampai mendidih dengan terus diaduk pelan hingga meletup-letup.
  2. Masukkan sisa air santan, aduk sampai kental.
  3. Masukkan gula aren, aduk dengan api kecil sampai gula larut dan tercampur rata. Setelah bubur mengental, matikan api.
  4. Untuk membuat kuahnya, didihkan semua bahan kuah santan dengan api kecil.
  5. Sajikan dalam mangkuk dengan kuah santan, aduk rata.

 

Jenang Ketan Hitam

Bahan Jenang :

  • 1 liter ketan hitam yang sudah direndam selama 3 jam
  • Gula sesuai selera
  • 2 lembar daun Pandan
  • Garam secukupnya
  • Air secukupnya

Bahan Saus Santan :

  • 65 ml Santan
  • 100 ml air
  • 2 lembar daun pandan
  • Garam secukupnya

Cara Membuat Jenang Ketan Hitam :

  1. Masukkan semua bahan adonan jenang ke dalam panci, masak hingga mendidih dengan api sedang selama 5 menit.
  2. Setelah 5 menit, matikan kompor dan diamkan selama 30 menit dengan panci tertutup.
  3. Lanjutkan dengan memasak selama 7 menit hingga matang.
  4. Masaklah dengan panci terpisah semua bahan untuk saus santan hingga kental.
  5. Taruh Jenang ketan hitam pada wadah lalu disiram dengan saus santan dan siap untuk disajikan.

 

Jenang Grendul

Bahan-Bahan :

  • 250 gram tepung ketan
  • 150 gram tepung beras
  • 300 mL santan
  • 300 gram gula merah
  • 2 lembar daun pandan
  • 1 sdt garam
  • 50 mL air

Cara Membuat Jenang Grendul :

  1. Campurkan 50 gram tepung ketan, 25 gram tepung beras, dan 50 ml air.
  2. Buat bulatan-bulatan dengan ukuran sekali suap, sisihkan.
  3. Campur 100 gram tepung ketan dan 100 gram tepung beras.
  4. Masak bahan seperti santan, gula merah, pandan, dan garam lalu saring, tuangkan pada tepung beras dan ketan, aduk hingga rata.
  5. Persiapkan wajan anti lengket, masukan adonan kedalam wajan, masak hingga adonan setengah matang.
  6. Sementara memasak adonan, masak air dan rebus bulatan-bulatan tepung ketan hingga matang dan mengapung, angkat dan tiriskan.
  7. Masukkan bola-bola ketan yang sudah matang ke dalam adonan jenang yang sedang di masak, aduk kembali masak hingga matang sempurna.
  8. makanan siap disajikan

 

Jenang Sumsum

Bahan-Bahan :

  • 5 sdm tepung beras
  • 65 ml santan kelapa
  • garam secukupnya
  • air secukupnya
  • 1 lembar daun pandan

Bahan Saus Gula Merah :

  • 200 gram gula merah
  • Gula pasir secukupnya
  • Garam secukupnya
  • 1 lembar daun pandan
  • Air secukupnya

Cara Membuat Jenang Sumsum :

  1. Campur semua bahan untuk bubur sumsum ke dalam panci
  2. Aduk bahan yang ada di panci
  3. Letakkan panci di atas kompor, nyalakan dengan api sedang
  4. Aduk secara perlahan hingga ada letupan pada bubur, jika sudah kental matikan kompor
  5. Bahan untuk saus gula merah dimasukkan semua
  6. Masak di atas api sedang hingga mendidih, untuk air menyesuaikan kekentalan saus
  7. Jenang sumsum dengan saus gula merah siap dihidangkan

 

Jenang Mutiara

Bahan-Bahan :

  • 100 gram sagu mutiara
  • 1,7 liter air
  • 2 lembar daun pandan
  • Gula pasir sesuai selera

Bahan Saus Santan :

  • 65 ml santan
  • 100 ml air
  • 2 lembar daun pandan
  • Garam secukupnya

Cara Membuat Jenang Mutiara :

  1. Didihkan air lalu masukkan mutiara sagu dan daun pandan, diaduk terus hingga mutiara transparan.
  2. Setelah matang masukkan gula pasir sesuai selera sambil diaduk.
  3. Campur semua bahan saus santan dan masak hingga kental.
  4. Jenang mutiara siap disajikan dengan siraman saus santan.

 

Jenang Candil

Bahan Bola-Bola :

  • 250 gram tepung ketan
  • 1/2 sdt garam
  • Air secukupnya, hingga adonan dapat dibentuk bola

Bahan-Bahan :

  • 200 gram gula merah
  • 1 liter air
  • 2 lembar daun pandan
  • 1 sdm tepung ketan yang dilarutkan dengan air
  • 1 sdm tepung beras yang dilarutkan dengan air

Bahan Saus Santan :

  • 65 ml Santan
  • 100 ml air
  • 2 lembar daun pandan
  • Garam secukupnya

Cara Membuat Jenang Candil :

  1. Buat bola-bola dengan mencampurkan seluruh bahan bola-bola, lalu dibentuk bulat menyerupai kelereng
  2. Masak gula merah dengan air dan 2 lembar daun pandan sampai mendidih, setelah itu saring
  3. Kemudian masukkan kembali adonan bola, tunggu hingga bola berubah warna dan mengapung
  4. Masukkan adonan cairan tepung ketan dan tepung beras, masak dan aduk hingga adonan meletup – letup
  5. Untuk saus santan, panaskan santan, daun pandan, dan garam hingga mengental
  6. Sajikan dengan saus santan

 

Demikianlah sedikit informasi tentang Cara Membuat Jenang yang bisa kami berikan untuk Anda. Mungkin bisa Anda gunakan referensi ini untuk memulai usaha atau untuk Anda coba praktikan sendiri dirumah.

Note :

Hai Sobat jika kalian ingin memanfaatkan peluang usaha makanan ini dengan optimal, maka sangat disarankan untuk menggunakan mesin pengaduk dodol aneka bahan guna kuantitas dan kualitas produksi yang maksimal. Karena pada umumnya alat pengaduk dodol itu juga dapat digunakan untuk memasak atau mengaduk jenang, selai, wajik, dan masakan lainnya.

Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat mencoba. Sobat Jangan lupa untuk share atau bagikan artikel ini kepada keluarga dan teman-teman mu ya !.

Terimakasih sudah membaca artikel ini. Baca juga berbagai macam artikel yang menarik dan inspiratif lainya pada website ini !